04/04/2026

Taiwan Today

Ekonomi

Taiwan Tempati Posisi 17 dalam Peringkat Daya Saing Dunia

24/05/2018
Wakil Kepala Dewan Pembangunan Nasional (NDC) Chiou Jiunn-rong mengatakan pembenahan hal-hal struktural tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. Seiring dengan hasil pelaksanaan kebijakan yang mulai terlihat hasilnya, di masa yang akan datang peringkat Taiwan serta merta akan turut meningkat.

Institute for Management Development (IMD) Swiss mengumumkan Laporan Daya Saing Dunia tahun 2018. Taiwan menduduki peringkat ke-17 dari 63 negara atau turun 3 peringkat dibandingkan posisi tahun lalu. Untuk kawasan Asia Pasifik, Taiwan turun ke peringkat 4, di bawah Hong Kong, Singapura dan Tiongkok Daratan.
 

Terdapat 4 kategori dalam laporan IMD, yaitu kinerja ekonomi, efisiensi pemerintahan, efisiensi bisnis, dan infrastruktur. Untuk tahun ini, Taiwan mengalami penurunan dalam 4 kategori tersebut.
 

Di bidang efisiensi bisnis, posisi Taiwan turun ke peringkat 20. Hal ini terutama disebabkan oleh indikator lapangan kerja yang merosot dari urutan 26 ke urutan 38. Indikator perilaku dan nilai juga turun dari urutan 16 ke urutan 23, selain itu indikator finansial dan pengelolaan juga mengalami penurunan.
 

Pada bidang kinerja ekonomi, posisi Taiwan tahun ini turun 2 posisi ke peringkat 14. Penurunan terbesar terjadi pada indikator perdagangan internasional dan investasi tetapi indikator ketersediaan lapangan kerja dan harga mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.
 

Di bidang efisiensi pemerintahan, meskipun turun dari posisi 10 ke posisi 12, namun terjadi peningkatan pada indikator kebijakan pajak sewa dan struktur masyarakat. Penurunan yang cukup signifikan terjadi pada indikator hukum perdagangan dan struktur kelembagaan.
 

Pada bidang infrastruktur, terjadi penurunan 1 posisi ke peringkat 22. Indikator konstruksi dasar turun dari posisi 30 ke posisi 39. Infrastruktur teknis turun 3 posisi. Infrastruktur iptek berada di posisi yang sama dengan tahun lalu. Indikator medis dan lingkungan meningkat 3 posisi, dan indikator pendidikan meningkat 6 posisi.
 

Peringkat Taiwan dalam laporan IMD selama beberapa tahun terakhir adalah sebagai berikut: tahun 2009 di posisi 23 (performa terburuk), tahun 2010 di posisi 8 (terjadi kenaikan yang sangat pesat), tahun 2011 di posisi 6, tahun 2012 di posisi 7, tahun 2013 di posisi 11, tahun 2014 di posisi 13, tahun 2015 di posisi 11, tahun 2016 dan 2017 Taiwan berada di posisi 14, tahun 2018 daya saing Taiwan turun ke posisi 17, yang merupakan performa terburuk dalam 9 tahun terakhir.
 

Wakil Kepala Dewan Pembangunan Nasional (NDC) Chiou Jiunn-rong mengatakan pembenahan hal-hal struktural tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. Seiring dengan hasil pelaksanaan kebijakan yang mulai terlihat hasilnya, di masa yang akan datang peringkat Taiwan serta merta akan turut meningkat.
 

Target survey laporan IMD adalah para manajer perusahaan. Dalam proses evaluasi, penilaian tentu saja akan dititik beratkan pada hal-hal dari sudut pandang pengelolaan perusahaan dan permodalan. Revisi undang-undang perburuhan yang dilakukan Taiwan saat ini mengarah kepada perlindungan tenaga kerja, seperti pengurangan jam kerja, yang berdampak pada penurunan peringkat. Jadi, jika dilihat dari indikator "lapangan kerja", penurunan peringkat tidak selalu mengindikasikan hal yang buruk.
 

Mengenai penurunan di bidang kinerja ekonomi, NDC mengatakan penurunan ada pada indikator perdagangan internasional (posisi 19) dan investasi (posisi 41) yang disebabkan oleh nilai ekspor yang terlalu terfokus, dan nilai investasi langsung yang berada jauh di bawah, sehingga para manajer perusahaan khawatir penyesuaian ekspansi di bidang manufaktur dapat memberi dampak pada prospek ekonomi.
 

Pemerintah telah memperhatikan dampak dari situasi ekspor yang terlalu terfokus, Kebijakan Baru Arah Selatan (New Southbound Policy, NSP) adalah kebijakan pemerintah yang berupaya untuk memperbaiki kondisi ini. Mengenai perdagangan sektor jasa yang mengalami defisit jangka panjang, hal ini terutama disebabkan oleh keberadaan Taiwan sebagai negara pengimpor teknologi. Kebijakan 5+2 yang sedang dijalankan oleh pemerintah adalah untuk melakukan transformasi sektor industri manufaktur, dan meningkatkan nilai tambah. Apabila perkembangan ini sudah membuahkan hasil, diharapkan akan dapat mengubah sektor jasa yang masih defisit.

 

Terpopuler

Terbaru